Kamis, 31 Oktober 2013

Jerit itu masih ada

Hentak menghentak tak ku hiraukan ini jam berapa

peduliku lenyap di telan gulita

aku terus menari memanggil si durjana birahi

yang sembunyi di balik caping harga diri...

Ooh malam...jangan kau hentikan

hingga ku lemas menari dan hentakan ini berhenti

aku tak peduli dan kian tak peduli

karna sunyi menelanjangiku

dari ubun ubun hingga mata kaki...


Wahai sang pemuja harga diri

dari mulutmu kau bilang ini

" Hargamu berapa bilang saja, agar aku mampu membayarnya

hingga tak mati lelah kau, oleh tarian yang tak ku sukai...!!"


Ehmmm...pongah ku bicara,

" Segera buka matamu dan lihatlah aku,

bahkan ludahmu pun aku hargai,

karna harga dirimu lebih kau tinggikan

semakin tinggi dan kian tinggi saat satu persatu jalinan benang aku lucuti..!!"


Peduli tak peduli

kepalamu kian tinggi mendongak wahai tuan

tegak setegak rentang harga dirimu dan diriku

yang kau rentangkan sepanjang selangkangan...


Aku tak peduli dan kian tak peduli

berapa harga yang mampu aku bayar

untuk sebuah harga diri

harga dirimu yang kau tinggikan

bahkan langit malam pun tersenyum cengang...




NOTE: Aku ambil dr salah satu tulisanku di digend's blog...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar